Dulu..
Aku pernah mengagumi mu dari jarak yang sangat jauh. Aku pernah mengharapkanmu untuk menjadi pemimpinku, menjadi teman hidupku yang menemani aku dikala aku membuka mata dan menutup mata.
Aku megharapkanmu untuk menjadi seorang sahabat yang selalu aku tunggu sepulangnya kamu bekerja. Menjadi seorang sahabat yang selalu aku tunggu cerita-ceritamu tentang teman kantormu yang menganggumu. Menanti ceritamu tentang kepenatanmu atas pekerjaanmu. Dan aku selalu mengharapkan kamu menjadi sahabatku yang selalu menjadi pendengar keluh kesahku.
Dulu..
Sebelum ia kembali padaku dan aku kembali kepadanya. Dulu, sebelum aku tahu apa yang kamu rasakan. sebuah pengharapan yang hanya pengharapan kosong.
Dulu..
Kamu selalu menjadi pemeran utama atas segala doa-doa ku disetiap akhir sujudku. Setiap pesan singkat yang aku terima, aku selalu berharap itu dari kamu, Bougenvil ku.
Dan aku kembali bersamanya, karna denganmu adalah sebuah kemustahilan yang besar. Hari demi hari hingga berganti tahu, aku lupa siapa itu kamu, Bougenvilku. Aku membunuh secara paksa akan harapan-harapan itu. Meski hatiku meronta dan menolak untuk melakukannya.
Namun, Kau datang ketika aku telah mencoba sekuat hati membunuh semuanya. Kamu datang, dan memintaku untuk menemaniku di sepanjang umurmu.
Lalu, bagaimana dengan dia, mawar hitamku? Aku menyayanginya. begitu juga dengan dia yang menyayangiku. Aku harus apa, bougenvilku?
beri aku arahan harus berbuat apa?
Kamu bilang, kita serahkan semua kepadaNya. Jika Dia Ridho, dia akan memudahkan kita untuk bersama.
Aku paham maksud dan maumu, namun aku ingin keyakinan yang datang darimu. Aku mohon. Arahkan aku.
Aku pernah mengagumi mu dari jarak yang sangat jauh. Aku pernah mengharapkanmu untuk menjadi pemimpinku, menjadi teman hidupku yang menemani aku dikala aku membuka mata dan menutup mata.
Aku megharapkanmu untuk menjadi seorang sahabat yang selalu aku tunggu sepulangnya kamu bekerja. Menjadi seorang sahabat yang selalu aku tunggu cerita-ceritamu tentang teman kantormu yang menganggumu. Menanti ceritamu tentang kepenatanmu atas pekerjaanmu. Dan aku selalu mengharapkan kamu menjadi sahabatku yang selalu menjadi pendengar keluh kesahku.
Dulu..
Sebelum ia kembali padaku dan aku kembali kepadanya. Dulu, sebelum aku tahu apa yang kamu rasakan. sebuah pengharapan yang hanya pengharapan kosong.
Dulu..
Kamu selalu menjadi pemeran utama atas segala doa-doa ku disetiap akhir sujudku. Setiap pesan singkat yang aku terima, aku selalu berharap itu dari kamu, Bougenvil ku.
Dan aku kembali bersamanya, karna denganmu adalah sebuah kemustahilan yang besar. Hari demi hari hingga berganti tahu, aku lupa siapa itu kamu, Bougenvilku. Aku membunuh secara paksa akan harapan-harapan itu. Meski hatiku meronta dan menolak untuk melakukannya.
Namun, Kau datang ketika aku telah mencoba sekuat hati membunuh semuanya. Kamu datang, dan memintaku untuk menemaniku di sepanjang umurmu.
Lalu, bagaimana dengan dia, mawar hitamku? Aku menyayanginya. begitu juga dengan dia yang menyayangiku. Aku harus apa, bougenvilku?
beri aku arahan harus berbuat apa?
Kamu bilang, kita serahkan semua kepadaNya. Jika Dia Ridho, dia akan memudahkan kita untuk bersama.
Aku paham maksud dan maumu, namun aku ingin keyakinan yang datang darimu. Aku mohon. Arahkan aku.
Komentar
Posting Komentar