Hari ini, awan di langit Bogor berwarna abu-abu. Gelap. Seolah ia tahu, betapa hancurnya harapan ini. Harapan yang baru saja tumbuh sejak kau datang kembali. Dan hari ini harus aku ikhlaskan pupus kembali. Aku harus apa ka? Membunuh paksa kembali rasa ini? Dan harus mengikhlaskan dan merelakannya (Lagi) ? Kamu tahu, setiap bulir kalimat yang aku baca, hati ini bergetar. Hati ini mendamba dan kemudian harapan itu kembali. Dan sekarang, kamu pergi LAGI DAN LAGI. Entahlah.. Kamu datang kemudian pergi sesuka hati mu, tanpa izin tanpa permisi dan tanpa pamit. Kamu bilang "Kita harus bertemu untuk membahas perjodohan ini". Dan aku dengan hati merekah penuh harap, selalu menantinya. Pada hari itu, setibanya kembali aku di Jakarta, aku memberi kabar kepadamu setelah sekian lama kita tidak berbincang. Namun, status online terakhirmu, sejak dua hari yang lalu. Aku terus menanti, dengan segudang harap dan segudang kecewa pula. Katamu, " Jika kita berjodoh, Dia akan ...